Tulisan

“ RUMAH VISIONER ” : Komunitas Sosial sekitaran Kampus IPB Dramaga

            Rumah Visioner adalah salah satu komunitas yang bergerak dibidang sosial pendidikan. Komunitas ini berfokus pada anak-anak...

Jumat, 12 Juli 2019

“ RUMAH VISIONER ” : Komunitas Sosial sekitaran Kampus IPB Dramaga




            Rumah Visioner adalah salah satu komunitas yang bergerak dibidang sosial pendidikan. Komunitas ini berfokus pada anak-anak jalanan dan isu putus sekolah didaerah sekitaran Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2017 oleh salah satu mahasiswa IPB jurusan Stastistika 2014, Mohamad Arif Pramarta. Awalnya, sebelum mendirikan komunitas Rumah Visioner, Arif tengah mendirikan salah satu cabang kegiatan sosial Komunitas Celengan Berbagi dimana setiap hasil uangyang terkumpul akan digunakan untuk berbagi 100 nasi bungkus kepada masyarakat kurang mampu seperti pemulung, pengemis, anak-anak pinggiran, dan lain-lain. Kemudian, keresahan Arif bertambah ketika melihat anak-anak disekitar tempat tinggal Arif yang menghabiskan waktunya hanya sekedar bermain di sungai pada saat jam sekolah. Setelah diketahui, anak-anak ini adalah anak-anak yang berhenti sekolah dan memutuskan untuk memulung, mengemis dan menjadi penjual donat untuk melangsungkan hidup.Hal ini membuat Arif berkeinginan untuk dapat membantu anak-anak ini agar bisa mendapat pendidikan yang layak. Keinginan Arif kemudian didukung oleh teman-teman mahasiswa IPB yang memiliki kegemaran mengajar. Akhirnya, Arif membentuk kegitan mengajar khususnya untuk anak-anak yang telah putus sekolah dilingkungan tempat tinggalnya. Murid pertamanya adalah Derri yang merupakan seorang pemulung cilik disekitaran kampus IPB Dramaga.
            Bulan November 2017, Arif mengubah nama komunitas menjadi Rumah Berbagi Pendidikan dan telah dibantu oleh beberapa orang menjadi bagian kepengurusan. Anak-anak didikan terus dicari hingga ke pelosok bagian desa dan pemukiman warga sekitaran kampus IPB Dramaga untuk mewujudkan tujuan dari Rumah Berbagi Perdidikan ini. Hingga kini, ada sekitar lebih dari 50 anak yang pernah ikut belajar di Rumah Berbagi Pendidikan. Pertengahan tahun 2018, Rumah Berbagi Pendidikan berganti nama menjadi Rumah Visioner dengan maksud untuk menyesuaikan tujuan utama yang ingin dicapai dari kegiatan komunitas ini.
            Adapun tujuan dan visi serta misi yang dimilki oleh Rumah Visioner. Tujuan utama komunitas ini adalah memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak jalanan dan atau anak-anak yang putus sekolah. Komunitas Rumah Visioner juga berusaha agar anak-anak tersebut tidak sekadar belajar dan menerima pendidikan, tapi juga dapat memiliki ijazah dengan mengikuti program kejar paket gratis serta mendapat pendidikan karakter.
            Visi yang dibawa oleh Rumah Visioner adalah: “Berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak jalanan dan atau putus sekolah di daerah sekitar kampus Institut Pertanian Bogor Dramaga”.  Misi yang ingin disampaikan antara lain: 1. Pendampingan peserta didik dalam rangkaian pembelajaran agar dapat memiliki ijazah walaupun sudah berhenti sekolah; 2. Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter pada pelbagai aspek pembelajaran;
3. Pengembangan model bisnis social entrepreneurship sebagai sarana untuk keberlanjutan pendidikan dan pemberdayaan peserta didik guna peningkatan kesejahteraan hidup.
            Kegiatan dari Komunitas  Rumah Visioner dilakukan secara rutin pada hari senin-kamis waktu selepas ashar hingga menjelang magrib. Sistem yang diajarkan juga merupakan sistem sekolah gratis kejar paket sehingga tidak ada batasan usia dalam proses kegiatan ajar mengajar. Rata-rata usia beragam mulai dari usia sekolah dasar, usia sekolah menengah hingga ibu-ibu pekerja di salah satu Fakultas di Kampus IPB. Kegiatan selama ini dilakukan di salah satu rumah kontrakan yang berlokasi di daerah Kelurahan Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Hingga saat ini, relawan pengajar harapan (sebutan bagi pengajar sukarela murid-murid di Rumah Visioner) yang ikut berpartisipasi dalam Komunitas Rumah Visioner mencapai 400 orang. Komunitas Rumah Visioner masih terus dilakukan pengembangan dan agar bisa dijadikan Komunitas Rumah Visioner sebagai suatu bentuk yayasan resmi. Informasi  mengenai Komunitas Rumah Visioner dapat dilihat pada halaman website http://rumahvisioner.com dan instagram @rumahvisioner.

Sumber: Novita Eka Widyastuti, jurusan Matematika IPB 2014, salah satu pengurus Komunitas Rumah Visioner

Minggu, 07 Juli 2019

DejaVu : Cordofa Leadership Camp 4 ke Baduy

Entah pertanda atau apa itu..

Tahun lalu, aku lupa kapan tepatnya tanggal dan bulan berapa, mungkin di pertengahan tahun 2018.
Aku terbangun dalam mimpi dan tersadar, aku berada di wilayah yang asing. Aku melihat satu persatu wajah yang juga tak kalah asing. Sempat terbesit "siapa mereka?" tapi tidak ku tanyakan karena kondisi saat itu aku sudah berbaur dengan mereka tentunya aku saat itu sudah pasti mengenal mereka.

Saat itu mereka semua sibuk merapikan barang-barang bawaan mereka, merapikan tenda-tenda mereka, menyiapkan bawaan, atau sekedar duduk minum sejenak.
Waktu itu aku dan mereka berdiri diatas lumpur tanah yang sudah mengeras. Disisi lain ada segerombolan laki-laki yang juga melakukan hal yang sama seperti yang aku dan teman-teman perempuan di sekelilingku lakukan. Posisi kami hanya terpisah oleh jalan aspal yang menanjak dan tak lagi mulus. Di jalanan itu juga telah dipantau oleh 3 orang pemuda yang hanya diam memperhatikan kami semua.

Aku masih dalam kebingungan sesaat hingga suara itu menyadarkanku,
"Waktunya sisa 10 menit, yang belum makan ayo cepat makan!" teriak salah satu pemuda tadi yang tengah berdiri di jalanan yang menanjak.
Aku langsung berbalik dan melihat bawaan tasku bukan lagi tas hitam kecil yang hanya muat satu botol minum, alquran dan satu buku bacaan. Melainkan tas besar berwarna orange yang beratnya mencapai 10 kg dengan isinya yang entah apa aku tak tau.
Aku melihat samping kananku, ada seorang perempuan nampaknya lebih muda dariku dan sibuk menata kerangka tenda.
"Mana lagi yang perlu aku bantu?" ujarku begitu saja. Seperti aku memang perlu melakukan apa yang mereka lakukan walaupun aku tidak yakin.
Salah satu perempuan yang berdiri dibelakangku menjawab,
"itu..! Kerangka tenda itu belum dirapikan," aku berbalik dan mulai merapikannya dan hingga salah satu tulang tenda ada yang rusak, serat2 halus mencuat keluar dan dan langsung tertanam tepat di ruas-ruas jari kelingkingku.

"Hati-hati kak, itu ada yang patah," salah satu mengingatkan. Tapi percuma, sudah terlambat dan jari kelingkingku sudah lebih dulu sakit dengan serat-serat tulang tenda tertancap rapi.

Mimpi masih berlanjut. Jalanan yang menanjak ini, jalan yang memisahkan posisi perempuan dan laki-laki itu tampak begitu asing. Bentuknya berupa aspal turunan dengan sebagian jalan yang rusak sehingga hanya dipenuhi kerikil dan batu-batu tajam. Sedangkan kondisi saat itu, aku, dan -ku lirik semua orang yang berjalan disekitarku, juga tidak menggunakan alas kaki apapun. Aku terus berjalan menuruni setapak, ku ingat ada perintah berkumpul di depan mushola dibawah dari tempat awal beberes tenda tadi.

Beberapa orang laki-laki berjalan didepanku dengan kantong kresek di tangan mereka, Aku sempat bingung tapi aku tidak ingin peduli. Aku memerhatikan tempat itu lagi. Rasanya asing ini tempat pertama kali aku kunjungi. Sebelah kanan, ada rumah warga yang dibelakangnya terdapat sawah yang membentang. Aku menangkap suara dari kelompok laki-laki itu bahwa kantong plastik yang mereka pegang adalah sembako yang akan diberikan pada warga. Salah satu laki-laki yang bersuara itu nampak tak asing. Tapi aku tidak bisa mengingatnya. Siapa dia? Siapa namanya? Aku berusaha tidak ingin bergulat dengan pikiran sendiri sementara seluruh orang sudah menunggu di depan mushola.

Aku meletakkan carrierku diantara sela kaki. Kegiatan berbaris sudah bubar. Sebagian sudah pergi entah kemana dengan tas-tas besar mereka. Aku masih sibuk mencabut serat-serat halus yang menancap di jari kelingkingku.

"Kenapa?" seseorang bertanya.
Aku tau, orang itu tidak asing tapi aku tidak bisa mengingat wajahnya.
Aku mengatakan tentang luka di jariku. Dia menarik lenganku dengan sekejap untuk melihat lebih dekat dan setelahnya memberi saran, dia mengambalikan tanganku lagi. Aku mengiyakan dan menyadari disekelilingku. Tersisa beberapa orang. Aku yakin aku adalah bagian dari mereka dan termasuk dalam kelompok yang paling akhir. Mereka terpencar tidak berjauhan, sekitar 1-3 meter antara satu dengan yang lain. Mengobrol, bercanda, atau melamun. Aku menyadari aku pernah merasakan hal ini.
---Mimpi terputus, aku terbagun, tapi, tidak keseluruhan mimpi aku lupakan selayaknya mimpi pada umumnya.---


Seminggu yang lalu, aku ikut dalam suatu kegiatan diluar kampus, dan hari itu adalah hari ke-3 kita ditempat itu. Namanya Kampung Cijahe, Baduy. Aku ingat jelas bagaimana runtutan acara di hari itu.
Pagi buta kita bangun tahajud dengan kaki dingin tanpa alas menginjak lumpur coklat diluar tenda, aku dan 3 orang temanku bangun melangkah keluar menuju mushola untuk menunaikan tahajud. Air yang dingin, udara sehabis hujan membuat aku semakin meringkuk dalam jaket. Inilah pagi pertama di kampung Baduy.

Sepelas subuh, dilanjutkan kegiatan lainnya, apel, olahraga, dan sarapan. Kami kembali ke titik kumpul depan mushola, bersiap utk kegiatan outbond di sekitaran kampung. Dipersingkat, selesai kegiatan, kami diberi waktu untuk beberes dan mengemas seluruh peralatan kami, kita akan melanjutkan perjalanan ke desa selanjutnya.

Saat itu aku ingat tenda yang kami (aku dan teman kelompokku) tempati adalah tenda terakhir yang belum dibongkar. Aku sempat melihat sekelilingku, sekitaran tempatku berdiri adalah wilayah khusus untuk perempuan. Dan mereka sibuk bergegas dengan dengan urusan mereka. Aku hanya terbengong sesaat dan melihat sisi lain juga ikut turut bergegas membereskan tenda, mereka kelompok laki-laki yang sama seperti kami. Kami dibatasi oleh jalanan yang miring, beraspal tapi tak lagi mulus. Disana ada 4 orang panitia. Dua diantaranya laki-laki dan menatap serius mengamati kami yang berberes tenda.

"Waktu sisa 10 menit, yang belum makan, silahkan makan," teriak salah satu panitia. Aku tersadar dan berbalik melihat kearah tiga orang teman setendaku.
"apa lagi yang bisa aku bantu?" tawarku.

Salah satu temanku menyampaikan beberapa hal sebelum akhirnya aku mengambil kerangka tenda untuk dirapikan.
"hati-hati kak, itu ada yang rusak, serat-serat tulangnya tajam." kata salah satu teman yang lain. Tapi terlambat. Aku sudah lebih dulu memegang tulang tenda yang rusak dan kelingkingku sudah merah karena sakit tertancap serat-serat tulang tenda.

Kami semua sudah siap dan berjalan menuruni aspal yang rusak. Di sebelahku ada dua orang teman perempuanku. Didepanku berjalan si A sebagai ketua kelompokku dan beberapa orang ketua kelompok lainnya. Ditangan mereka memegang sekantong besar plastik merah. Aku penasaran kira-kira apa isinya. Penasaranku terbayar oleh pertanyaan seorang yang lain dengan apa yang dibawa si A dan teman-temannya.

"Ini sembako, dan akan dibagikan ke warga."
Aku mengangguk mendapat jawaban dalam hati. Kulirik sebelah kananku, kurasa rumah di sebelah kananku ini rumah warga, tapi kenapa tidak dibagikan? Kuperhatikan lagi, rasanya pemandangan dan situasi ini tak lagi asing.
"ayo cepat berbaris dan masuk ke dalam barisan," suara panitia menyadarkanku untuk berhenti mengotak-atik pikiran dan memoriku. Aku berbaris kedalam barisan dan menunggu aba-aba selanjutnya.

Semua kelompok siap untuk misi keberangkatan ke kampung dalam. Aku terbagi ke kelompok 4 atau kelompok terakhir dalam pembagian perjalanan. Tas carrier ku di berdirikan tepat diantara sela kedua kakiku. Terlalu berat untuk aku gendong seraya menunggu aba-aba selanjutnya. Aku kembali menyibukkan diri membersihkan serabut-serabut halus yang masih menancap tajam di jari kelingkingku. Seorang datang menghampiri dan bertanya padaku kenapa, aku menjelaskan dan dia memberi saran dari sebelumnya yang dia lakukan. Dia juga terkena luka yang sama.

Kawanku itu pergi kembali duduk dan menunggu. Aku lihat ia mulai mengobrol dengan teman kelompok lainnya. Aku beralih kesisi lain, teman-teman perempuan lainnya juga melakukan hal yang sama. Berjarak tiga meter dari tempatku, kelompok laki-laki itu ikut bercanda satu sama lain. Saling menguatkan dan memberi semangat. Tidak jauh beda, aku melihat panitia tersisa juga mengobrol dan sibuk mengatur rencana-rencana selanjutnya. Aku seperti menyadari sesuatu, aku pernah berada disini, di situasi ini. Mungkin ini yang mereka sebut sebagai DEJAVU.

"Ayo kelompok 4 silahkan berkumpul"
Suara itu terlalu familiar ketika aku menyadarinya.
Aku tau hal selanjutnya yang akan terjadi. Meskipun tampak buram, hnya sepenggal ingatan, tapi aku ingin menikmati saat ini.

--
Kenapa wajah mereka saat di mimpi itu tampak asing? Karena mereka memang belum pernah aku temui didunia nyata sebelumnya.
Kenapa aku hanya mengingat sebagian dari cerita-cerita dalam mimpi itu? Karena aku ingin melupakannya. Aku ingin melakukan semua ini menjadi hal baru yang belum pernah ku lakukan bukan terarah seperti yang aku arahkan dalam mimpi.

Sekarang aku mengingat semuanya dengan ingatan jelas, aku juga ingat siapa saja wajah-wajah asing dalam mimpi itu. Aku harap aku bisa terus mengingat mereka semua bukan sebagai mimpi yang akan hilang ketika ku terbangun, tapi sebagai pelajaran dan kenangan yang tak akan pernah hilang walau beribu kali aku terbangun dari tidur.


Dramaga, Bogor, Kamis, 7 Maret 2019


Cordofa Leadership Camp Batch 4 : 1-5 Maret 2019


Sabtu, 06 Juli 2019

Aku yang Menyukai Hujan



Bau hujan menyeru menusuk hidungku,
bukan lagi suatu hal yang asing,
dikota hujan, adalah satu dari sekian banyak kesukaanku

bulan Juni yang baru saja terlewati,
bulan yang selalu kunantikan disetiap tahunnya,
hadiah kecil yang tak terbayarkan oleh siapapun juga,
rumah dan pulang, aku selalu merindukannya di setiap bulan Juni

Kini Juli pun datang, membawa hujan perlahan
rintik-rintik kecil tak bersuara,
awan ikut meneduhkan mengiringi gerimis yang menenangkan

baru saja kemarin aku melompat riang menginjak dedaunan,
yang telah kering kecokelatan berserakan dijalanan
Kreek, aku menyukai suara dedaunan ketika terinjak,
dia telah lama gugur dari ranting,
dia telah lama pula dibiarkan kering,
sampai jumpa lagi kemarau yang dingin,
selamat datang musim penghujan yang menyejukkan

oh, ya! ini kota hujan!
satu dari mimpi lamaku untuk bisa berada dikota ini,
aku yang menyukai hujan,
menyukai bagaimana bau tanah yang merindukan disiram,
menyukai bagaimana suara rintik yang berirama,
menyukai bagaimana aku melompat kecil diatas genangan setelah hujan,
seakan ku tengah menari tanpa lagu dan hanya bersama hujan
aku menyukai sepatu dan ujung baju yang perlahan mulai basah
aku menyukai tetesan air dari payung dan atap dimana ku mengadah
aku menyukai jalanan dan dedaunan yang menetes dari sisa-sisa air hujan

hujan itu menenangkan
hujan itu menyembunyikan
hujan akan menenangkan setiap hati yang gelisah
hujan akan menyembunyikan wajah mereka yang sudah lama lelah

hujan adalah kawan
menemani mereka yang butuh kesendirian
bukan berarti membawa kesedihan dan kesenduan
hujan adalah kawan
tanpa perlu kau bicara dan ceritakan

aku menyukai hujan,
semua tentang hujan,
sayangnya ku terlalu pengecut saat engkau datang
apakah memang begitu,
selalu ada yang tak bisa aku raih tentang apa yang ku suka
walau pun begitu, aku akan tetap menyukai hujan
meski hanya dibalik jendela, atau dibawah atap yang meneduhkan

suatu saat nanti,
bila ku akan kembali pergi dari tempat ini,
aku pasti kan merindukan smua akan kota ini.
maka sebelum aku pergi,
mari kita nikmati saat-saat ini,
selamat datang hujan bulan Juli,
mari kita berkawan dan kembali menari dan bernyanyi
ku tak peduli apa yang akan terjadi, itu urusan nanti.

ND_606 (Bogor 4/7/19)

Rabu, 07 Maret 2018

Sabar ada batasannya?




Hmm. Bener gak sih sabar ada batasannya?

Cek coba kita cek. Kemana lagi kalo bukan dengan pedoman kita Al qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

Yang pertama kita lihat sendiri atas firman Allah SWT dalam surah Ali Imran:200

“... bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran mu...” (Qs Ali Imran :200)

Sengaja Munji hanya mengambil sepotong ayat tersebut supaya Sahabat bisa fokus maksud dari ayat tersebut. Dari ayat Ali iImran ayat 200 diatas sangat jelas bahwa Allah menyuruh kita (hamba-Nya) untuk bersabar dan Allah juga tidak menyuruh kita untuk berhenti bersabar melainkan untuk menambah dan menguatkan tingkat kesabaran kita.

Kenapa? Karena Allah ingin melihat kita sebagai hamba yang bertaqwa, sesuai dengan firman-Nya;

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa“ (Qs Al Baqarah: 177)

Dan masalahmu terlalu berat? Serasa seluruh dunia menjauhimu? Berpikir bahwa aku tidak akan sanggup dengan masalah atau cobaan ini? Tenanglah Sahabat, ada Allah. Selalu. Dan Ia tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya. Karena Allah jauh lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Qs Al Baqarah : 286)

Jangan pernah takut dengan segala masalah yang ada dihadapanmu, karena selalu ada Allah disetiap kesabaranmu.

Allah menyukai orang-orang yang sabar“ (Qs Ali Imran: 146)
Dan,

“.... mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs Al-Baqarah:153)

Bukankah kita berharap Allah mencintai kita? Maka bersabarlah. Dan kamu akan menerima buah dari kesabaranmu itu.

“..Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs Al Baqarah:155)

Apa kabar bahagianya?

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs Az Zumar:10)

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.“ (Qs Hud: 11)

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.“ (Qs Al Furqan: 75)

Karena bagaimana pun sifat sabar adalah sifat yang paling utama,

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Qs. Asy-Syuuraa:43)

Maka berdoalah untuk diberikan kesabaran oleh Allah SWT.

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).“ (Qs. Al A’raf: 126)

Masih banyak firman Allah tentang sabar yang ada dalam QalamNya. Hanya bagaimana kita bisa mempercayainya atau tidak. Salah. Mengapa tidak? Percaya pada Allah itu pasti, percaya pada makhluk? Entahlah. Jadi mengapa engkau ragu, sedangkan dalam Al Quran berulang kali Allah sampaikan itu, seharusnya kita bisa lebih mempercayai Allah dari segalanya.

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar...” (Qs 40:55 dan pada surah-surah lainnya  46:17, 18:21, 45:32, 35:5, 19:61, 30:60, 10:55, 31:9)

Sudah percaya? Lalu maukah kamu bersabar lebih dan lebih lagi? Pastinya dong! Sahabat Munji selalu begitu, kuat, berani, semangat, dan Shalih/ah pastinya!

Satu lagi surah yang Munji favoritkan, semoga bisa membantu menguatkan Sahabat Munji semua. Sampai ketemu di postingan selanjutnya!

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5-6).


.

Sabtu, 25 November 2017

Cerpen : "Tuhan, kenapa tidak Engkau kabulkan doaku?"

Konnichiwa ! Ogenki desu ka? Lama tak jumpa.

Hari ini Munji akan bercerita sedikit tentang kisah fiksi yang pernah Tina baca or dengar (lupa hehe). Yang penting, menurut Tintin kisah ini sangat  inspiratif. supaya kita berpikir lebih positif kepada yang di atas.

Diceritakan ada sebuah desa yang sering kali dilanda banjir. Banjir itu berasal dari salah satu sungai terdekat yang meluap ketika hujan tiba. Pada saat itu ada seorang pria yang selalu percaya dan beribadah kepada tuhannya. Suatu hari, hujan tidak berhentinya turun didesa tersebut, akhirnya seperti biasa, sungai tersebut pun meluap dan menggenangi desa tersebut. Selama beberapa hari, banjir itu pun sudah mencapai pinggang orang dewasa. Beberapa penduduk pun sudah banyak pergi mengungsi dari rumah mereka. Banyak perahu dari tim evakuasi yang datang untuk menjemput penduduk yang masih tinggal disana. Sebuah perahu pun menghampiri rumah pria itu dan menawarinya untuk pergi ke pengungsian. Tapi kemudian pria itu menolak.

“Tidak usah, saya selalu berdoa kepada Tuhan saya untuk menolong saya. Lebih baik kamu pergi ke rumah yang lain saja.” kata pria itu.

Hari pun berganti. Hujan masih belum berhenti. Kini banjir tersebut sudah naik setinggi dada orang dewasa. Penduduk desa pun sudah banyak pergi meninggalkan desa tersebut. tapi tidak dengan pria itu yang memilih tetap dirumahnya. Tim evakuasi yang melihat pria tersebut kembali datang dan meminta pria itu untuk  ikut bersama dengan perahu mereka. Tapi pria itu kembali menolak.

“Tidak usah, setiap hari saya selalu berdoa kepada Tuhan saya. Saya percaya Dia akan menolong saya. Lebih baik anda membantu orang yang lain saja.” kata pria lagi.

“Tapi hujannya masih belum berhenti. Kemungkinan banjir akan terus naik.”

“Saya selalu berdoa pada Tuhan saya. Dia pasti akan menyelamatkan saya.” Kata pria itu lagi.
Setelah beberapa lama membujuk pria itu dan tidak membuahkan hasil, tim evakuasi akhirnya pergi dan menyelamatkan penduduk yang masih tersisa dirumah mereka.

Hingga suatu waktu, banjir pun sudah mencapai atap rumah warga. Seluruh penduduk desa pun juga telah meninggalkan desa kecuali pria itu. Sebuah helikopter pun datang untuk memastikan keadaan desa dan menyelamatkan penduduk yang mungkin masih terjebak di desa. Mereka pun melihat pria yang duduk diatap rumah dengan pakaian yang seadanya. Dengan cepat, tim evakuasi menurunkan tali ketika berada tepat di atas rumah pria tersebut.

“Hei, cepatlah naik dengan tali itu. Kita akan menolongmu dan membawamu ke tempat pengungsian.” perintah tim evakuasi.

“Tidak usah, saya sudah berdoa kepada Tuhan saya. Sebentar lagi Tuhan saya yang akan menolong saya dari banjir ini.” Kata pria itu. Tim evakuasi pun pergi. Akhirnya banjir itupun semakin tinggi dan seluruh desa pun tenggelam. Pria itu pun akhirnya meninggal karena tenggelam.

Setelah kematiannya, ia pun bertemu dengan Tuhannya dan bertanya,
“Tuhan, kenapa tidak Engkau kabulkan doaku? Padahal aku selalu berdoa supaya Engkau menolongku dari banjir itu.”

“Ketahuilah, sesungguhnya telah Aku kabulkan doamu. Hanya saja tidak pernah kamu menyadarinya. Ketika kamu berdoa meminta pertolongan dari-Ku, kukirimkan bantuan untuk menyelamatkanmu. Tapi kamu menolaknya. Kamu berdoa lagi pada-Ku untuk menyelamatkanmu, Aku pun mengabulkannya. Kukirimkan para penolong untukmu. Tapi kamu menolaknya. Kamu meminta bantuan-Ku lagi untuk menolongmu. Dan Aku berikan pertolongan itu padamu. Tapi kamu lagi-lagi menolaknya. Sesungguhnya Aku telah mengabulkan doamu.” Kata Tuhan pada pria itu.

Pria itu pun tertunduk menyesali perbuatannya. Ia baru menyadarinya saat ini.

Hikmah dari kisah ini adalah, ketika kita meminta pada Tuhan kita (for me and only one for me: Allah) jangan berpikir bahwa doa kita tidak dikabulkan oleh-Nya. Cobalah perhatikan dalam dirimu atau disekitarmu, Apakah ada yang salah? Atau kah Dia telah mengabulkan doa-Mu dengan cara yang berbeda? Atau bisa jadi Dia sedang menunggu kesungguhan atas doamu. Who knows. But you must to know that, Dia akan mengabulkan doamu dengan tiga cara, memberikan apa yang kamu minta, menahan apa yang kamu minta, atau menggantikan apa yang kamu minta. Setidaknya lihatlah kedalam dirimu juga sekelilingmu. Seberapa banyak kesalahan yang  selalu saja kamu perbuat, lihatlah apakah permintaan itu benar-benar yang kau butuhkan saat ini, atau lihat apa yang telah kamu dapatkan saat ini mungkin saja itulah jawaban dari Tuhanmu. Maka, dari apa yang kita inginkan, bukan hanya duduk diam menunggu doa itu akan dikabulkan dengan rahmat yang turun begitu saja dari langit. Melaikan kita juga perlu bekerja keras bergerak menuju kepada keinginan kita itu. Allah kan melihat usaha kita, itulah cara Dia mengabulkan doa kita.

Jangan menyerah kawan! And percayalah pada Allah:)


Ditulis Oleh : Anita Rusdiana


Jumat, 20 Oktober 2017

Yass, Ini Pengalaman Lombaku yang Pertama !!

Hallo Munjii !!

Salam senyum dari Bogor yang selalu hujan di sore hingga malam hari !!

Kali ini aku mau bercerita tentang kisah baru dalam hidupku. Hahaha terdengar lebay? Emang. Hahaha
Kemarin tepatnya seminggu  yang lalu dua dari target di kuliah ku terwujud. Yup, ikut lomba, sekaligus pergi keluar kota. Alhamdulillah ! meskipun aku belum diberi kesempatan untuk memegang piala maupun hadiah, tapi sudah sangat senang sebab targetku selama dua tahun ini yang akhirnya terwujud.

Alhamdulillah Tina diberi kesempatan untuk bertanding sekaligus belajar dari orang-orang hebat dari seluruh universitas Indonesia. Sesuatu yang tidak dapat Tina rasakan di ruang perkuliahan.

Dimana lombanya? Apa lombanya? Kemarin Tina diberi kesempatan mengikuti lomba di Medan. Lomba tentang karya tulis nasional bertema memajukan Indonesia di berbagai bidang seperti pendidikan, teknologi, pertanian. Tentu saja Tina mengikutinya dengan dua teman Tina, duo Adis namanya. Yaitu Adis Ratu dan Adisti Kusuma. Hahaha.

Memang perjuangan untuk bisa pergi ke tanah orang batak ini memang ga semudah yang dikira. Banyak yang perlu dipersiapkan terlebih untuk lomba ini. Tapi yah kita juga sudah memikirkan konsekuensinya bakal seperti ini jadinya kita akan tetap jalani saja. hahaha.

Singkat cerita aja nih, kami pergi ke bandara hari Kamis(12/10) yang seharusnya pukul 11 pagi kita otw dari Dramaga, harus telat karena pembuatan produk yang makan waktu kami sampai akhirnya kami berangkat pukul 1 siang. Dan macetnya jalan membuat perjalanan yang harusnya bisa mencapai bandara dengan waktu kurang dari dua jam, malah hampir menunjukan waktu 3 jam perjalanan. Ada banyak kekocakan yang terjadi selama di bandara, sesuatu yang membuat sedikit terhibur. Dan ternyata delay pesawat pun benar-benar sesuai dugaanku. Lebih dari dua jam di bandara dengan hal bodoh yang terus saja kami lakukan utntuk menghibur diri. Yah, benar-benar ingin menghibur diri. Sepertinya ini memang kesempatan untuk kita melupakan tumpukan tugas kuliah yang udah mirip gunung Fuji, Jepang.

Oke, skip. Kami sampai di Medan pukul 19.30 wib. Di jemput oleh LO dan diantar menggunakan mobil pribadi karena ketelatan waktu kedatangan kami yang seharusnya. Sampai ditempat penginapan, kami di berikan makan malam dan langsung dipersilahkan untuk beristirahat. Seperti dugaanku ! Mereka para finalis sangat luar biasa! Sampai pukul 2 dini hari pun mereka masih semangat mempersiapkan presentasi mereka besok dengan sebaik mungkin. Aku akui saat itu aku sudah merasa kalah.

Hari 1 pun dimulai kami dibawa ke sebuah aula kampus. Seperti yang dijadwalkan hari ini adalah hari dimana para finalis mempresentasikan hasil karya tulis mereka. Kami kebagian urutan ke 4 tapi bergeser karena beberapa hal. Penampilan pertama, kedua dan seterusnya membuatku terkagum. Mereka hebat. Aku akui itu dalam hatiku. Tapi aku juga tidak pernah mau pesimis, karena tujuanku ke sana adalah untuk menang. Aku hanya perlu semangat dan berikan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Waktu untuk kami pun tiba. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana rasanya berdiri menjadi pusat perhatian dari orang-orang ber-almamater berbeda. Aku cukup senang, dan aku menikmati kegugupanku di atas panggung presentasi. Hahaha, skali lagi memang lebay.

Waktu pun terlewat, aku sedikit kecewa dengan presentasi kami sebelumnya, tidak seperti yang aku harapkan. Tapi aku juga tidak bisa atau ingin menyalahkan, karena kita adalah tim, dan kita telah melakukannya bersama-sama dengan sebaik mungkin. Ini bisa menjadi pelajaran yang paling menyadarkan untuk kami bertiga. Aku bersyukur. Sesi presentasi ini pun berakhir, semua peserta digiring berfoto bersama. Siapa yang sangka, saat itu kami tiba-tiba menjadi akrab seperti kawan lama yang baru kembali bertemu. Semuanya heboh, semuanya berbaur, seakan kita semua disana tidak sedang bertanding. Apa kamu bisa membayangkannya?

Kami kemudian dibawa ke tempat expo dari kegiatan. Disana aku juga sempat mencicipi kopi arabika yang asam bercampur pahit. Kopi murni yang digiling dan tanpa gula. Rasa yang cukup membekas dimulut hingga saat ini. *lebay lagi. Okke, kembali ke penginapan, mungkin karena kelelahan, akhirnya agenda malam itu di tiadakan. Aku juga hanya menghabiskan waktu dikamar untuk menyelesaikan tugas yang lain. Haha *sok sibuk. 

Hari kedua pun tiba. Kami dibawa ke ruang aula yang lebih besar. Disana diadakan acara seminar nasional bertema “Aquaponic”. Tapi di awal acara kami diminta untuk mempersiapkan diri karena kita akan diperkenalkan sebagai delegasi dari kampus masing-masing.  Mungkin kamu juga tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu. Saat ketika nama kampusmu di panggil dan kamu berjalan diiringin musik, pandangan seluruh peserta seminar yang hadir, tepuk tangan yang meriah, dan juga yang wajib ada, kamera ! *walaupun Cuma kamera hp.

Sesuatu yang membuatku sedikit bergetar ketika kami semua berdiri diatas panggung yang luas, berbaris dan berfoto dengan rektor dan gubernur dari Sumatera Utara, tak lepas pula tatapan dari seluruh peserta yang sudah hampir memenuhi ruangan. Perasaan senang, bahagia, dan kagum yang luar biasa.

Acara kemudian berlangsung dengan lancar. Materi yang menarik, membuka wawasan, dan membawa satu pemikiran yang luar biasa mengenai aquaponic. Diakhir acara sebelum break dhuhur, inilah saat yang paling menegangkan untuk para finalis LKTIN. Dimana saat inilah pengumuman untuk mengetahui siapa yang paling terbaik dari yang terbaik. Bukannya pesimis, tapi aku hanya mengatakan dalam diriku untuk selalu tenang dan mengatakan tidak apa-apa.  Karena dari sini aku dapat belajar banyak hal, dari mereka semua, dan aku tidak risaukan lagi tentang siapa juaranya. Yang perlu diingat lagi bahwa kami semua yang ada disini adalah juaranya. *eaa

Waktu ishoma pun berlalu, kami kembali ke ruangan untuk mengikuti workshop dengan tema yang masih sama. Menarik. Sesuatu yang wajib untuk di ketahui setiap orang yang menyukai tanaman. Sampai-sampai aku pun bermimpi mendesain rumahku sendiri nantinya dengan aquaponic didalamnya. Sesuatu yang didesain sederhana, tapi nyaman. Karena aku suka tumbuhan, dan aku suka dengan ikan.

Seperti hari sebelumnya, acara ditutup dengan agenda foto bersama. Kali ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang kemarin. Hanya saja kali ini diikuti perkenalan dan gelak tawa masing-masing. bertukar almamater atau bergaya dengan piala orang. Tidak Cuma finalis, begitu juga dengan tim panitia yang ikut memeriahkan agenda foto yang amburawut ini. Hahaha.

Kami kembali ke penginapan pukul 18.30 wib. Setelah selesai bebersih dan makan, kami mengikuti agenda yang disusun oleh panitia. Walau pun saat itu kondisiku sedang sakit perut kambuh dan mata yang kurang dari lima watt, tetap aku paksakan ikut hadir disana. Karena aku tau, ini adalah kesempatan, dan kesempatan tidak kembali bila terlewatkan. Kesempatan untuk mengenal mereka semua lebih jauh, bercanda, dan bermain. Sungguh kami melewatkan malam yang dingin karena hujan dengan kehangatan dari kebersamaan. Setelah sesi game berakhir kami di minta untuk membuat ide masih dengan tema pembangunan Indonesia, bedanya kami hanya perlu menciptakan ide yang sebaik mungkin untuk bisa direalisasikan, entah oleh siapa itu nantinya. Waktu berlalu begitu cepat. Kini menunjukan pukul 1 dini hari. Kegiatan pun selesai, tapi untuk sesi keakraban tidak. Itu berlaku untuk mereka yang masih kuat menahan ngantuk dan dinginnya angin malam. Kalau aku lebih memilih tidur demi kesehatanku. Hahaha *alasan.

Hari 3 pun dimulai. Seperti biasa kami di beri sarapan bubur, bedanya kami makan dengan duduk melingkar bersama seluruh finalis (ngariung). Disini aku bisa melihat wajah-wajah mereka lebih jelas. Aku mulai bisa mengenali mereka sedikit lebih cepat dari biasanya hahaha. Agenda hari ini adalah yang paling kami tunggu-tunggu!  Yup, citytour. Kami diajak melihat Museum Perkebunan dimana isinya adalah bahan-bahan pertanian yang TIN bangeeet ! lalu kemudian berpindah ke Masjid Raya Kolam Deli, dimana arsitekturnya sangat indah dan megah, tidak lupa jajanan rujak yang luar biasa menyegarkan. Juga salah satu istana yang masih kokoh berdiri hingga saat ini, yaitu Istana Maimun. Siapa sangka anak sultannya saat ini masih berumur 18 tahun dan berkuliah di Undip dengan jurusan lingkungan ! *salah fokus, mohon abaikan.

Tapi memang tidak ada pertemuan yang tidak disertai perpisahan. Kami pun satu persatu tim mulai pamit kembali ke kota universitasnya masing-masing. Sedih memang. Siapa yang tidak berpikir bahwa ajang LKTIN ini memberikan kesan kekeluargaan yang mendalam dengan waktu 3 hari. Tapi aku yakin, Allah yang membuat kita bisa bertemu dan berbincang akrab satu sama lain seperti ini karena Dia punya rencana. Rencana bagaimana langkah kita selanjutnya. Langkah yang akan kita ambil sendiri. Yah, bagaimana kita sendiri yang menentukannya.

Aku, sangat senang bisa berkenalan dengan kalian semua ! mahasiswa-i hebat dari universitas yang berbeda. Memiliki ciri dan sifat yang berbeda. Jurusan dan fakultas yang berbeda pula. Aku senang. Tidak, aku bahagia. Sesuatu yang sangat berkesan, pengalaman yang luar biasa, kesempatan yang tidak terbayangkan. Aku hanya sulit menyampaikan dalam kalimat. See you on top, guyss !
Kalian tidak akan terlupakan. Begitu juga dengan pengalamannya, kotanya, juga rujak medannya. Hahaha. Cerita yang luar biasa dari teman-teman, perjuangan pergi hingga pulang kembali ke daerah masing-masing yang tidak bisa aku sampaikan disini. Percayalah kalian akan mendapat hikmah dibalik semuanya. Amin. Salam.

[Bogor, 20 Oktober 2017]


Selasa, 27 September 2016

Kan Ku Jadikan Kamu Bintang

Tgl : 30 Agustus 2016

Aku pikir, perbedaan kasta itu hanya ada di dalam sinetron tak masuk akal.
Aku kira, derajat seseorang itu hanya berlaku didalam drama-drama korea yang digilai oleh remaja saat ini.
Seperti aku, yang tak pernah percaya tentang perbedaan status di dunia nyata.
Yang aku lihat kita semua sama. Hidup dengan makanan yang sama. Bersujud dengan Tuhan yang sama.
Aku selalu berpikir bahwa semua orang di dunia ini sama.

Disana yang bergelimang harta akan sujud pada-Nya. Disana yang berkecukupan akan bersujud pada-Nya. Dan disana yang kekurangan juga bersujud pada-Nya.

Tapi ternyata aku salah. Pikiranku memang benar, tapi aku salah diperkara lain. Mereka tetap sujud di jalan yang sama. Tapi pikiran mereka berbeda dengan pikiran mereka yang lain.

Kamu tahu aku hanya anak dari tukang penjual gorengan di pinggir sekolah. Aku juga tahu kamu anak dari salah satu presdir di perusahaan terbesar di negara ini. Tapi tak ada perbedaan kita saat kita duduk didalam kelas untuk menerima pelajaran. Aku melihatmu dekat. Tidak ada perbedaan yang memisahkan kita begitu juga teman-temanku yang lain.

Kemudian ku melihatmu masuk ke rumah-Nya dengan wajah bersih karena wudhu. Kamu juga tahu aku mengenakan jilbab putih yang panjang menutup seluruh bagian auratku. Aku tahu kita bersujud di jalan yang sama, Tuhan kita pun sama. Kamu pun tahu itu.

Aku berpikir lagi, lagi, lagi. Apakah kita punya perbedaan ?

Semakin ku melihatmu, aku merasa semakin ingin aku menyentuhmu.

Kamu tersenyum dengan ramah saat menoleh kearahku.

Apakah kita punya perbedaan ?

Aku semakin ingin menyentuhmu.

Kamu menyapaku, saat kita berpapasan dijalan.

Apakah kita punya perbedaan ?

Aku semakin ingin memelukmu.
.
.
.
.
Apakah kita punya perbedaan ?
.
.
.
.
Aku menyukaimu.






Sialnya kasta itu ada.
Sialnya derajat seseorang harus ada.
Sialnya status itu berlaku.


Bajumu selalu bersih dan wangi.
Rambutmu selalu rapi.
Jam tangan dan sepatumu bagus.
Dan mobil mewah yang setiap hari selalu dicuci mengkilap.

Apa lagi yang kurang darimu. Jelaslah tampak untukku perbedaan yang nyata. Orang lain pun tahu.

Ketika itu ibumu datang dengan mobil yang ukurannya seperti rumah petakku.
Kamu saat itu berbicara didepanku sambil memberikan senyuman ramah nan indahmu.
Saat itu juga aku terlalu jauh menikmati perasaan bahagiaku menatapmu. Tak ada pertanyaan aneh itu lagi. Tidak ada. Semua kuanggap lenyap ketika kamu berdiri dihadapanku saat itu.

Lalu ibumu datang melambaikan tangannya yang bersih dan cantik. Saat itu kamu tersenyum lebar menyambutnya. Kemudian kamu kembali mengenalkan aku pada ibumu.

Aku tersenyum ramah. Ku ingin memberikan senyuman terbaikku untuk wanita luar biasa yang telah melahirkan seseorang yang membuat hatiku hangat. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya.

Namun, kurasa saat itu aku telah melakukan kesalahan besar.

Baju yang kugunakan sudah lusuh.
Rambutku basah karena keringat dari menggoreng bakwan tadi pagi.
Sepatuku kotor karena belum kucuci seminggu ini.
Dan lagi, aku tidak punya uang membeli parfum baru.

Aku telah membuat kesalahan besar. Aku telah membuat ibunya marah. Aku rasa aku telah terlalu jauh bertindak. Aku rasa aku..lupa dengan siapa diriku dan siapa dirinya. Aku salah.

Aku melihat ibunya yang berjalan penuh keanggunan. Melewatiku dengan wajah aneh serasa aku ini hewan kotor. Aku bisa mencium wangi tubuhnya yang mengalahkan bau bekas gorengan dibajuku. Hahaha, aku tertawa geli pada diriku sendiri. Ini parfumku, kenapa aku baru menyadarinya.

Ku lihat dia yang beralih menatap ke arahku lagi. Aku tersenyum kaku.

Ibunya menariknya pergi dari tempatku. Ya, ini bukan tempatnya harus berada, ini adalah tempat dimana aku berada.

Apa yang aku lakukan? Masih tersenyum kaku padanya. Aku benar-benar kehilangan pikiranku. Aku tersenyum padanya untuk menunjukkan bahwa aku tidak apa-apa. Ya, benar. Aku tidak apa-apa. Aku... benar-benar tidak apa-apa, karena begitulah sebenarnya aku.

Bukankah aku terlalu egois karena aku ingin dekat denganmu?
Bukankah terlalu egois karena ingin menyentuhmu?
Bahkan aku terlalu egois karena ingin memelukmu?
Aku sangat-sangat egois karena beranggapan kita sama.

Kamu bagaikan bintang yang jauh diatas sana. Aku hanya bisa melihatmu dari sini. Bersinar terang begitu indahnya. Aku tidak bisa menggapaimu. Aku hanya bisa melihatmu dari sini. Tempat yang tidak bisa kamu lihat dari atas sana. Yang tidak pernah berkilau sedikitpun, karena aku tidak memiliki kemampuan itu. Itulah aku.

Lalu aku akan bertanya lagi,
Apakah kita punya perbedaan ?

Kali ini jawabannya adalah,
Ya. Perbadaan yang begitu jauh.

Oleh sebab itu, ijinkan aku  mengagumimu. Aku tidak akan mengharapkan lebih. Akan ku jadikan kamu bintangku, yang selalu bisa aku lihat dan akan selalu indah disana.

Aku menyukai, bintangku, sampai kapan pun itu.




  

Jumat, 26 Agustus 2016

Tentang Senyum

Penulis : Panji Ramdana
Buku : Menuju Baik itu Baik


Pernahkah hatimu bertanya-tanya tentang apakah dia pernah tersenyum untukmu atau tidak ? Dan kemudian kamu mengandaikan, andai ia tahu jika dalam setiap harinya bahwa kamu tidak pernah tak tersenyum untuknya. Jika pun ia tersenyum untukkmu, apakah ia selalu memberitahumu jika ia tersenyum ? apakah ada alat yang seperti notifikasi pada jejaring sosial, yang ketika ia membaca pesan kita, kita tahu. Yang ketika ia tersenyum dengan memberikan tanda senyum pada status kita, kita tahu? adakah alat seperti itu? Alat yang dapat memberikan pesan untuk kita, jika pada malam ini, tepatnya pukul delapan malam ia memikirkanmu dan tersenyum untukmu? Aku yakin tidak ada, kecuali nanti, ketika dia telah menjadi milikmu dengan seutuhnya.

Bukankah sebuah kecukupan jika kita bisa melihat senyum seseorang yang kita sukai? Dari balik senyumnya kita bisa mengetahui bagaimana begitu baik hati orang tersebut. Dan pernahkah dengan tanpa sadar kita ikut tersenyum jika melihatnya tersenyum? tidak ada yang menyuruh bukan? Tidak ada pula yang memerintah, melainkan itu adalah kehendak hati kecilmu. jangan kau tahan, jangan pula merasa malu jika senyummu kalah indah dengan senyumnya. Karena apa? Karena dengan atau tanpa sadar, pun ada seseorang yang lain yang dengan baiknya menjadikanmu sebagai alasannya untuk tersenyum. Kamu tersenyum untuknya, dan di sebelahmu ada seseorang yang tersenyum karenamu.

Jika perhatian tidak dapat kuberikan secara langsung, jika perasaan tak dapat kutunjukkan dengan setiap detiknya. Ketahuilah, akan ada satu jalan untukku agar selalu bisa menunjukannya, dengan sepenuh hati, dengan impian-impian tentang kebahagiaanmu. Dalam lima waktu tak lelah ku ikut sertakan selalu namamu di dalamnya. Semoga segala impianmu dapat terwujud, karena impianmu adalah impianku, dan semoga ada aku di dalam impianmu itu, aku selalu mendoakannya.

Kamis, 10 Maret 2016

Lirik Ost Cinta Pertamaku

Hai hai haii, Sahabat Munjii.... ^^
Hari ini Tina ingin mengungkapkan isi hati Tina. Tapi Tina terlalu malu jika harus berbicara. Biarkan lewat lirik yang menjadi ungkapan hati Tina. Walaupun Tina nyanyinya gak beda jauh kayak suara klakson tapi setidaknya Tina bisa menyampaikan persaan Tina lewat lagu ini. Bagi yang tau ritme lagu ini mungkin akan mengerti perasaan Tina (Wuuuiiih ngarep dimengerti) Cuus laah, yok nyanyi bareng Tinaa..

CINTA PERTAMA
Cristella Nathania

Apa benar yang kurasa
Ada getar tak bernada 
Dia dekat, Aku takut
Dia jauh, Aku rindu
Jawab aku, ku bertanya
Apa benar ini cinta, cinta..

Apa benar kalau cinta 
Jantungku berdetak kencang
Panas dingin didekatnya
Siang malam memikirkan 
Lama-lama bisa gila 
Apa benar ini cinta, cinta...

Jika benar jatuh cinta 
Ku tak berfikir logika
Kadang sedih kadang senang
Bagai timbangan tak pasti
Oh Tuhan tolong diriku
Inikah rasanya cinta,
Cinta pertama... 


TENTANG KAMU
Vebby Palwinta

Seperti pelangi..
Seperti mentari...
Seperti dirimu..

Yang selalu ku tunggu..
Dan selalu ku rindu..
Sampai akhir waktu..

Dirimu kan selalu..
Kisahmu kan selalu...

Dan bintang dengarkan aku,
Terangi aku, Saat bertemu..
Tak mudah untuk kau jauh..
Lamunkan aku, Akan dirimu..

Seperti senyummu..
Seperti mimpiku..
Seperti yang lugu...

Kan datang selalu..
Cerita kisahmu..
Sampai akhir waktu..

Bintang dengarkan aku..
Terangi aku, Saat bertemu..
Tak mudah untuk kau jauh..
Lamunkan aku akan dirimu...

STATUS KEPANITIAAN DENGAN DASAR HUBUNGAN KEKELUARGAAN

Siapa mereka? Entahlah. yang aku tahu, Allah telah menuliskan takdirku untuk bertemu dengan mereka.
Aku yakin, aku ada disini juga atas kehendak-Nya.Aku bertemu mereka, aku mengenal mereka, juga atas kehendak-Nya.
Mengapa aku yang dipilih saat begitu banyak orang memiliki ilmu dan agama yang lebih kuat dariku? Aku selalu berpikir bahwa Allah sengaja memilihku agar aku bisa belajar dari mereka, bisa mengikuti jejak mereka atau bahkan menjadi cermin bagaimana imanku dengan iman mereka. Bayangan tidak akan pernah bisa menyentuh objeknya. Bayangan hanyalah maya yang terus berada dibaliknya. Karena itulah, aku tidak ingin menjadi bayangan dan hanya bisa melihat saja. Tapi aku juga ingin keluar dari bayangan dan bisa menyentuh mereka. Aku merasa seperti tidak ada artinya saat bersama mereka. Hanya bisa melihat dan mendengarkan semua yang mereka katakan. Mereka hanya butuh kehadiranku. Oleh sebab itu aku ada. Aku ngin berbaur tapi rasanya terlalu jauh. Aku ingin bersuara tapi rasanya suaraku begitu kecil. Diam-diam aku mengagumi mereka. Diam-diam pula aku begitu salut dengan mereka. Bagaimana sifat mereka, bagaimana cara berpikir mereka. Aku terus mengamati mereka.
Ketika tersebut namaku, kadang aku masih tak sadar bahwa aku adalah bagian dari mereka. Aku selalu merasa terlalu jauh dan berbeda.
Dan ketika tugas itu diberikan kepadaku, aku masih tak percaya diri bisa melakukannya seperti mereka. Bisakah aku memegang amanah ini? Kurasa tugas itu tidak terlalu berat. Aku hanya bisa melakukannya dan aku ingin melakukan yang terbaik.
Hingga harinya pun tiba, hingga acaranya pun berlangsung, dan hingga acara itu selesai. Aku tidak akan pernah luput melihat setiap pergerakan mereka. Bukan hanya satu kali acara, melainkan lima hari di tiga minggu yang berbeda. Dan disetiap hari memiliki konsep yang berbeda-beda pula. Lihatlah bagaimana cara kerja mereka. Beberapa kali aku mendengar teriakan hati mereka, isi pikiran mereka, tingkah kelelahan mereka. Tapi lihatlah, mereka tidak pernah menunjukannya kepada para tamunya. Lihatlah hasil yang mereka dapat. Hampir sempurna..
Ketika hampir semua bantuan tenaga SDM tertarik dengan urusan yang lain, mereka tidak ingin merasa kurang. disitu Allah mengirim hamba-Nya yang jauh lebih kuat dan mengerti apa yang mereka butuhan. Allah telah gerakan hati orang-orang yang lebih untuk membantu mereka.
Ketika segala biaya yang dikeluarkan untuk semua keperluan, masing-masing dari mereka rela menyisihkan uang mereka. Tidak peeduli diakhir nanti akan dikembalikan atau tidak. Mereka tidak putus asa. Namun, Allah seakan senang dengan niat dan perilaku mereka. Sebab itulah, Allah gantikan uang mereka lebih dari cukup. Bahkan melebihi yang seharusnya mereka dapat. Dan disitu Allah kembali menguji mereka dengan uang yang yang melimpah itu. Lihatlah langkah mereka, Sungguh satu hal lagi yang membuatku kagum. Uang itu, mereka infakkan kepada yayasan yatim yang lebih membutuhkan. Niat itu semata-mata juga karena Allah. MasyaAllah... 
Dan ketika tidak bisa memberikan ilmu yang sesuai yang seperti mereka susun dan rencakan. Hampir terlihat putus asa di wajah mereka. Tapi apa yang terjadi ketika semuanya Allah yang berkehendak? Ternyata Allah telah memiliki rencana lain. Allah telah menyiapkan yang lebih baik. Saat itu aku ingat bahwa bukankah rencana Allah selalu lebih baik dari rencana yang dibuat hamba-Nya? Sungguh aku takjub akan kebesaran-Nya. Dari semua hal itu aku kembali berpikir ke awal. Sungguh sangat awal ketika kepanitiaan ini terbentuk, tujuan acara ini, dan output yang akan dihasilkan. Aku mengingat semuanya.
Panitia terbentuk karena Allah telah pilihkan. Tujuan acara ini semata-mata untuk berdakwah mengajak ke jalan-Nya.dan semata-mata karena Allah , agama ini akan di perjuangkan. Ini adalah sebuah acara tentang islam. ini adalah acara untuk menggerakan keder-kader baru untuk terus membela islam. Itulah sebabnya bagaimana semangat panitia untuk menyukseskan acara yang mulia ini? Bukan untuk mereka tapi untuk Islam.
Tahukah kamu bagaimana kerja mereka selama ini? Mereka selalu mengingatnya karena Allah. Mereka selalu meniatkannya karena Allah. Mereka selalu menyebutkan nama-Nya disetiap gerak langkah kaki mereka. Beristigfar 1000x, bertasmid dan berdzikir. membacakan surat Al Waqiah setiap hari, dan tak pernah lupa untuk bershalawat kepada Nabi saw disela-sela waktu mereka. 
Kemudian lihatlah keajaiban yang terjadi. Ilmu yang luar biasa bermanfaaat. memberikan kepribadian muslim yang seharusnya. Biaya yang terus bertambah dan menjadi surplus lebih dari yang diperkirakan. Hingga menuntun untuk dapat berbagi kepda yaayasan yatim. Dan satu hal lagi yang telah mereka dapatkan, yaitu tentang kebersamaan dan kekeluargaan.
Bukankah awalnya kita tidak saling kenal? Bagaimana mereka bisa terus percaya. Bukankah begitu banyak kekesalan yang mereka rasakan terhadap yang lain? Bagaimana bisa mereka mengatakan tidak apa-apa. Harusnya mereka marah, Tapi bagaimana bisa mereka tidak menanggapi itu dan masih tetap terus berlangkulan. Sering itu menggangguku. Tapi itulah salah satu hal yang juga membuatku semakin mengagumi mereka.
Niat mereka hanya karena Allah, oleh sebab itu mereka akan selalu percaya bahwa mereka juga tidak akan mampu untuk berjalan seorang diri tanpa berpegangan tangan. Saat itu aku juga belajar tentang kepercayaan dan kesetiaan.
Ucapan terima kasihku tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkan semuanya. Terima kasih atas kepercayaannya padaku. Terima kasih karena mau menganggapku bagian dari kepanitiaan ini. Sungguh aku masih tidak percaya bisa bertemu dengan mereka semua. Dan sungguh betapa senangnya aku ketika namaku bersanding dengan nama mereka disini. Mereka semua adalah orang-orang yang begitu hebat. Selalu memberiku panutan dan semangat yang baru untuk bisa mengikuti jalan mereka. Sungguh aku mengagumi mereka hingga akhir. Dan sungguh aku begitu bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya yang telah mempertemukanku dengan mereka, dan bisa belajar banyak dari merka. Aku tidak akan pernah berhenti. Alhamdulillah, terimakasih Allah..
Kali ini acara telah benar-benar selesai. Amanah di kepanitian telah habis dan berhenti. Namun mengapa aku melihat hal yang lain? Sebuah hubungan yang dimana tidak ada beban amanah dan tingkatan. Aku hanya melihat sebuah keluarga yang mungkin telah terbentuk sejak awal. Mungkin telat aku merasakannya. Namun itulah yang baru aku rasakan kini. Aku merasa tidak perlu memutuskannya. Biarkan kita semua tetap bersatu atas nama kepanitiaan namun dalam hubungan kekeluargaan. . Karena seperti itulah aku selalu merasa bisa terus belajar dari mereka semua, dan dengan begitu aku bisa bersama mereka. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, dan tetap terus semangat berdakwah dan berjuang  menyeru nama-Nya di setiap langkah kalian. Dan berdoalah kita agar bisa dipertemukan lagi dalam urusan yang lain. mungkin didunia, ataupun disurga-Nya kelak. Amiin..
Semangatlah Para Penggerak Kincir Angin. SPECTRUM 2015
"Kami Adalah Kincir Angin Penggerak Peradaban Dakwah. Allahu Akbar !!"

Kamis, 07 Januari 2016

Mimpi

Terkadang mimpi itu indah. Bahkan sangat indah hingga membuat orang ingin tuk tetap terlelap. Mimpi yang indah membuatnya tidak ingin tuk membuka matanya dan kembali hidup. Karena nyatanya kehidupan tidak bisa bebaskannya bermimpi. Tapi apalah dayamu, kawan. Jadilah seorang yang kuat dan berani menaklukan duniamu. Jangan hanya bersembunyi dibalik mimpi yang tidak pernah jelas. Lihatlah. Karena inilah dunia. Lihatlah karena inilah hidup. Lihatlah karena dengan kembuka matamu kamu akan berhasil membawa mimpi itu keluar kedalam dunia nyata.. -



Semangat UAS !!

Minggu, 16 Agustus 2015

Masa Perkenalan Fakultas

Tgl : 14 Agus 2015



Inilah perjalananku.
Dua bulan yang lalu, aku dikenalkan pada mereka. Suatu kelompok kecil untuk acara perkenalan fakultas.

Awalnya aku takut. Aku tidak berani bahkan walau hanya menyebutkan namaku. Aku takut membuka diri pada orang baru. Itu kelemahanku.

Hari keduanya kita dikumpulkan kembali oleh ketua kelompok. Yah, saling berkenalan lagi. Aku mengenal mereka sebatas nama. Aku memperhatikan, aku melihat setiap gaya dan perilaku mereka. Aku rasa aku bisa mengenal mereka saat itu. Hanya dan memerhatikan, apa itu salah? Yah, menurutku itu salah. Kemudian, tiba-tiba saja aku ditunjuk sebegai sekertaris kelompok. Itu bukan gayaku. Apalagi itu bukan keahlianku. Tapi mau apa lagi. Aku hanya ditunjuk. Hati kecilku takut dan bergetar. Aku benar tidak berani.
"Ya" ucapan itu keluar begitu saja. Dalam pikiranku, kapan aku bisa melawan rasa takut itu jika bukan sekarang? Aku harus bisa membuka mulut dan lebih banyak berbicara didepan umum.

Hari ketiga pertemuan. Aku jelas bisa melihat mereka lebih dekat. Dan aku mengenal mereka. Itu menyenangkan saat aku bisa diberi kesempatan berbicara lebih banyak diposisiku. Tentu dengan melawan ketakutan itu.

Aku tentunya tidak bisa menyebut mereka dengan karakter mereka satu per satu. Tapi aku mungkin bisa menyebutnya sedikit. Ada diantara mereka yang begitu diam tanpa banyak bicara. Ada yang begitu heboh, dan tidak pernah bisa diam. Tapi jika tidak ada dia, kelompok kita tidak akan berwarna. Ada juga seseorang yang begitu tegas dalam bicaranya. Ada juga yang begitu halus, lembut, bahkan sering tidak terdengar perkataanya. Yah, di kelompok ini seperti memiliki kepribadian yang bertolak belakang.Tapi, kita tersenyum dan tertawa bersama. Kita kompak dan menjaga kebersamaan kelompok ini. Kita rela meluangkan banyak waktu berhari-hari untuk kesolidan kita. Tanpa berpikir tentang diri kita yang telah berkorban banyak ataupun menonjolkan keegoisan masing-masing. Yang perlu kita tahu, bahwa kita adalah satu. Dan melihat salah satu dari mereka seperti melihat diri kita sendiri. Itulah yang kita rasakan.

Kemudian, seseorang pun masuk dan bergabung dalam kelompok kami. Anak baru. Tapi, kami menerimanya dengan hangat. Membuka tangan lebar-lebar untuknya bergabung. Pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan kehadirannya bukanlah hal yang begitu spesial. Dia adalah bagian dari kita. Dan seakan-akan dia telah hadir semenjak awal kita bertemu. Dia bukanlah orang asing bagi kita.

Hari H pun semakin dekat. Hanya hitungan hari lagi. Kami saling mengingatkan satu per satu. Menjaga kekompakan itu agar bisa terlihat jelas dikelompok lain. Bisa aku rasakan bagaimana sifat asliku begitu nampak hanya untuk memperhatikan mereka. (Maafkan aku).

Dan hari H pun tiba. Kami berusaha semampu kami. Tidak membuat kesalahan dan tidak membebani anggota kelompok. Pagi-pagi buta kita berkumpul di koridor kampus yang dingin. Aku tidak pernah kuat dengan angin malam, dan saat itu bibirku mulai memutih. Aku kedinginan hingga bergetar jari-jariku. Aku lemas dan jatuh terduduk. Tapi, tiba-tiba saja, seseorang merangkulku. Sedikit memelukku dari samping. Aku tahu siapa dia, tapi tetap aku ingin melihatnya dan memberikan senyum untuknya. Aku tidak apa-apa.

Tiga hari pun berjalan. Tiap pagi buta kita harus menunggu di koridor yang sepi, duduk di lantai yang dingin, dan menunggu di lapangan yang terbuka. Dan saat waktu sarapan tiba, kita saling berbagi makan. Sebungkus berdua, atau bahkan bertiga. Cukup mengenyangkan walau harus melewati waktu seharian. Menjelang sore, perut yang keroncongan membuat tawa diantara kelelahan kami. Roti sebungkus rela dibagi rata. Air minum kadang ludes di mulut mereka. Tapi kami tidak apa-apa.

Hari pertama, saat buku tugas kami dihancurkan. Sedih memang. Kami membuatnya lebih dari lima hari. Membuang banyak waktu dan uang juga untuk itu. Tapi kami langsung kembali bangkit. Kami berkumpul dan kembali mengerjakannya. Yang kami ingat bahwa kami adalah satu. Maka dari itu, kami bisa menyelesaikannya dalam waktu 2 jam lebih.

Hari H2. Hari yang paling berkesan untukku. Bukan, tapi untuk kita semua. Hari disaat kita merasakan dan memerlukan kekompakan. Berbagai permainan kelompok. Disitu kita merasakan kalah dan menang. Saat menang, kita bisa merasakan  kekompakan dari kelompok kita. Dan saat kita kalah, kita merasakan bahwa, itu juga merupakan kesalahan kita. Kita tidak bisa menyalahkan dia atau pun dia. Tapi, masing-masing dari kami selalu mengucapkan kata maaf. Entah itu serius, kita selalu mengatakan dan menganggapnya bercanda. Kita juga tahu itu.


Dan H3, hari istimewa dari dua hari yang sebelumnya. Kami semua disambut oleh Kepala Dekan Fakultas. Disambut teriakan semangat dari semua kakak-kakak panitia.
"Selamat datang di Fakultas Merah"
kemudian kami diiring menuju lapangan Rektorat dan berfoto angkatan disana. Sungguh senang hatiku mengingat setiap geraknya. Kampus yang tidak pernah aku bayangkan, dan fakultas yang tidak pernah diimpikan, juga jurusan yang tidak pernah dibesitkan. Nyatanya aku disini. Itu adalah hal yang luar biasa. Kalimat syukurlah yang tidak pernah lepas aku ucapkan hingga kini.

Hari H pun berakhir. Usaha kami pun tidak sia-sia. Kelompok kami keluar sebagai juara kelompok terbaik. Selain itu juga sebagai juara-juara yang lain. Bisakah kamu membayangkannya? Tidak, mungkin jika kamu mengikuti perjalanan 2 bulan kami ini. Hanya dengan seorang kakak asuh, seorang ketua, juga sekben. Kita bisa menggerakan dua puluh orang serta saling menjaga kekompakan.

Pelajaran yang aku ambil, tidak terhitung. Disetiap pertemuan kami, tidak pernah satupun yang tidak berkesan dan menjadi pelajaran untukku.

Mungkin sedikit yang ingin aku sampaikan. Pertama, aku tidak ingin lagi hanya berlaga mengenal mereka hanya dari melihat penampilannya. Kemudian, ketakutanku. Jika aku terus bersembunyi, kapan aku bisa melawan ketakutan itu. Bukankah waktu hanya terus berjalan dan menciptakan kesempatan, lalu kenapa membuat kesempatan itu terlewat begitu saja?

Kemudian, tentang kekompakan. Bukan lagi bicara tentang keegoisan atau sifat ketidakpedulian. Kita adalah satu dalam kelompok. Dia adalah kita, kita adalah mereka. Jika dia harus jatuh, kita pun ikut jatuh bersama. Tapi kemudian kita kan berpegang tangan lagi untuk bangkit bersama. Bukan saling menunjuk atau menyalahkan. Aku harus menyukai mereka seperti keluargaku sendiri. Walaupun aku tidak suka, aku akan berusaha menerimanya. Begitu caraku memberi kekompakan di kelompok kita ini. Serta, saling membuka dan mengulurkan tangan dari puncak sedang ke dataran yang paling bawah. Kita akan membawanya bersama kita bukan membiarkannya dibawah kita. Itulah konsep kita. Tidak, seperti itulah konsepku. Aku masih tidak tau konsep yang dipikirkan ketua dan teman-temanku yang lain. Tapi mungkin ini sebagian kecil yang bisa diterapkan untuk mencapai kekompakan.

Oh. Aku ingat ketika pertemuan di hari kedua. Setelah perkenalan, dia berkata dengan lirih,
"Gue beruntung jadi anggota kelompok ini."
Kalimat yang meragukanku dan berusaha selalu aku abaikan. Di hari pertemuan pertama, di hari saat kita benar-benar baru mengenalkan diri. Aku penasaran dengan yang dia ucapkan ini. Namun, sekarang aku begitu ingin mengatakannya. Aku ingin mengatakannya dengan suara tegas dan keras.
"Aku beruntung mendapat kelompok bersama kalian !"
Yah, aku beruntung mengenal kalian, aku beruntung bisa bertemu kalian. Terimakasih buat semuanya. Tidak pernah aku lupakan dengan mudahnya semua kebersamaan kita ini. Mari lanjutkan langkah kita. Semangat dalam jurusan masing-masing. Dan sukseslah di masa depan ! Amiin.

Dan pada akhirnya, seorang kakak panitia berkata padaku.
"Kalian bukan lagi kompak, tapi kalian itu SOLID"

*Sahutan untuk Fakultas Teknologi

Thanks for Kak Syifa (Kakak pendamping), Sabilah Makhruf (Ketua), Irfan, Ade, Taupiq, Lutfi, Tegar, Wildan, Ronald, Uwit, Yusuf, Ryan, Billy, Adisti, Annisa, Lintang, Tia, Andini, Kiput, Veny. Kak Danang juga Kakak pendamping kelompok kami.

#TechnoF2015
#MPF_Fateta
#FakultasMerah
#FakultasTeknologiPertanian
#FATETAsolid
#IPBogor


Monggo ditonton themesong kami.. jangan lupa dilike yaa.. Hatur nuhun :)

Jumat, 14 Agustus 2015

Orang akan menilaimu melalui penampilanmu

Aku ingat pertanyaan seorang temanku. Waktu itu, aku hanya duduk melamun karena ngantuk. Ternyata nungguin teman untuk ngumpul buat tugas itu emang bikin ngantuk deh suer wkwk- Gak tau napa selalu aku yang duluan datengnya. Entah aku yang kecepetan, jamnya salah, atau mereka yang kelamaan. Oke, balik ke topik. Aku cuma ngeliatin orang mondar mandir dikoridor kampus, temen2 kelompok lain yang udah serius banget bikin tugasnya. Padahal kita cuma buat tugas ospek yang gak jelas bentuknyaa haha. Dan akhirnya sesosok manusia pun muncul hah ! -anggota kelompokku maksudnya-.

"Assalamualaikum Tin." Sapanya. Dan duduk disamping kanan tepat didepanku.

"Waalaikumsalam wr wb" jawabku lirih.

"Yang lain belum dateng ya?"

"Tau ah. Dari tadi aku sendirian disini. Cuman ngeliatin orang yang mondar mandir."

Dia gak ngerespon. Itu pertanyaan buat basa-basi doang.

Hening. Kaku. Dan kriik kriiik.
Yap. Temenku ini cowok. Dan akuuu, kalo dengan cowok pasti canggung banget deh rasanya. Sumpah dah.

"Kok lama banget ya." Ujarnya. Sok mencairkan suasana. -kayak adegan serius aja-

"Kapan sih mereka on time?" Tanyaku balik.

"Atin yang datengnya kecepetan haha"

"Kan emang harus on time. Generasi mudanya aja kayak gini. Gimana negara bisa maju?" kataku sok keren2 aja haha.

"Haha iya sih. Emang bagus kayak gitu."

"Aku diajarin on time itu udah dari SD. Makanya sampe sekarang kebawa juga."

"Oh ya?" Tanyanya sok2an kaget --
Yaudah. Aku mulai cerita2 aja. Bikin suasana sok akrab biar gak ngerasa aneh.

"Sebenernya gak juga sih. Dari SD sampe SMA kelas dua mungkin ya, aku selalu on time. Tapi kelas tiganya udah mulai molor. Karna udah tau kebiasaan orang2nya pada telat semua haha."

"Tapi pas nyampe dibogor kebiasaan itu ilang. Jadi ontime lagi sekarang." Lanjutku. Dia cuma senyum.

Aku lanjut cerita lagi aja. Sok2an biar deket aja. Cari pengalaman biar ngomong depan cowok gak kikuk lagi haha.

"Pernah tuh. Asramaku kan jauh. Kalo ke kampus harus 15 menitan jalannya. Tapi aku selalu berangkatnya kurang dari 10 menit. Pas nyampe, eh dosennya masuk, mau nutup pintu, akunya muncul dibelakang. Haha"

"Kurang lebih hampir dua bulan kayak gitu. Sekarang mah udah enggak."

"Wah mesti buru-buru banget ya?" Aku tau dia bingung mau jawab apa. Pertanyaannya itu cuma buat aku biar meresa direspon. -Aku tau kok-.

Eh gantian dia yang cerita. Aku mah nyimak ae.
"Iya. Aku juga di SMP emang selalu on time. Sekarangnya aja yang mulai molor. Udah tau pada lelet semua makanya ikutan telat. Hehe"

"Iyah ih bener. Pas tau kalo sering telat kayak gitu, aku juga ikutan telat. Kadang kalo kegiatan ngumpul kayak gini, aku nunggu teman2 bilang kalo udah di TKp. Udah gitu baru aku mandi dan siap2 wkwkwk."

Dia cuma ketawa kecil. Terus dilanjutin lagi.
"Tapi kalo orang sering on time terus datangnya telat tuh perasaannya udah gak enak yah. Berasa kayak gimana gitu."

"Haha iya. Kok tau? Rasa takut, cemas atau apalah hahaha"

"Haha ciee"

Udah. Sampe situ aja percakapan kita. Aku liat hp lagi, dia buka2 tasnya nyiapin peralatan yang dibutuhkan. Kembali suasana hening. Kriik kriik.

Dalam hati, kok mereka lama sih? Dua puluh orang janjiannya jam 9, udah mau jam sepuluh aja baru berdua. Ckckck. Udah gak tau mau ngobrol apa lagi nih sama cowok didepan aku. Mati gaya.

"Dulu Atin pesantren?"
Tiba-tiba langsung ditanya gitu.

"Enggak."

"Oh kirain.."

Baru aja mau buka mulut bikin percakapan baru, tapi akhirnya ketua kelompoknya dateng bersama dua orang pasukan. Haha. Selamat. Gak mesti berduaan lagi. Berasa aneh diliat orang yang lewat.

Tapi pertanyaannya itu loh..
"Apa karakter dan kepribadian aku sampe dia bisa nyimpul dengan mudah banget kalo aku dari pesantren?" Hmm, itu menjadi pr untukku.

Tapi kalau dia bisa menyimpulkan begitu, berarti penampilan adalah cara penilaian orang. Semoga penampilanku sesuai dengan hati, akhlak, dan kelakuanku. Semoga aku menjadi pribadi positive seperti penilaian mereka yang positive dari penampilanku. Amiiinn..

Sabtu, 01 Agustus 2015

Istiqomah? Bisakah aku?

"Bisakah kamu istiqomah didalam jalan dakwah ini?"

Pertanyaan yang dilontarkan oleh temanku ini terasa sulit. Dalam hatiku selalu ingin bisa terus belajar dan berdakwah tentang islam. Tapi saat pertanyaan itu muncul, sesuatu ikut muncul pula dalam hatiku. Sebuah keraguan. Rasa ketidak percayaan diri bergabung menjadi rasa keraguan akan keinginanku. Bisakah aku istiqomah dalam dakwah ini? Aku kembali bertanya dalam hatiku.

Keraguan itu muncul menggoyahkan. Mampukah aku? Jika jawabanku iya, aku takut bahwa jawabanku hanyalah hembusan angin. Aku tidak mampu menepati perkataanku itu. Namun jika jawabanku tidak, artinya aku seorang pecundang yang mengaku kalah sebelum bermain. 

Kau tahu betapa beratnya istiqomah itu?
Maka, aku berusaha menetapkan hati. "InsyaAllah" kata itulah yang keluar dari mulutku. Jawaban yang bukan merupakan janji, namun akan terjadi jika Allah menghendaki. Aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi kelak. Aku hanya ingin mengikuti keinginanku dan terus berada dijalan-Nya. Jika sesuatu itu terjadi, maka aku percaya itu adalah kehendak-Nya. Aku akan terus berusaha untuk bisa istiqomah, hanya itu.

Kemudian ku ucapkan, 
"Bismillah"
Aku memulainya saat itu juga.

Kamis, 30 Juli 2015

Perkenalan Sahabat Munji

Hallo Munjiii ! ayoo bangun-banguuun... Shalat subuh yuk!

 Oiya kalo waktu Indonesia bagian barat masih belum subuh ya? hehe. Subuh-subuh begini Atina udah posting ajaa. Tapi karena datanya masih ada di hape dan hapenya lagi bobo, sekarang Atina hanya ingin perkenalan singkat. Yeah ! (Hahaha)

 Ehm, perkenalkan Munji, namaku Atina Anaya (sebenernya sih itu nama pena). Lahir di Kota Ternate, Maluku Utara. Ayah dan ibu sebenarnya orang jawa tulen ! Tapi karena pekerjaan, kita sekeluarga tinggal di daerah ini. Mulai aku lahir sampai aku berusia tujuh belas, aku belum pernah menginjak kampung ibu di Pulau Jawa. Alhasil, aku tidak dikenal sebagai anak keturunan jawa karena sama sekali gak bisa ngomong jawa. Wkwkwk.

 Oke, lanjut. aku adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Kakak pertama, seorang polwan dan telah menjadi ibu rumah tangga. Sayangnya, suaminya adalah orang asli Tidore. Maka dari itu, karena ikut suami, dia tidak pernah pulang lagi ke tanah kelahirannya di Jawa. Kakak kedua, berbeda sembilan tahun dariku. Masih belum married dan hendak menyelesaikan kuliah S2 nya di IPB. Kakak ketiga, my twin. Katanya. Berbeda empat tahun dariku. Sekarang sedang menunggu sidang skripsi di kampus swasta di Solo. Dan kakakku yang terakhir, kakak tersayang, tersolmed, dan terkocak. Hanya berbeda setahun denganku. Oleh sebab itu, dia dan aku berasa lebih memiliki banyak cerita daripada kakak-kakak yang lain. Saat ini dia berkuliah di kampus yang sama dengan kakakku yang ketiga, di Kota Solo. Rasanya agak sedih berpisah dengan dia, huhuhu.

 Dan aku, sekarang tahun kedua aku berkuliah disini, di IPB. Tidak pernah terbayangkan olehku bisa berkuliah di kampus terbesar ketiga di Indonesia ini. Bersama kakak keduaku, kami berjanji akan membahagiakan kedua orang tuaku. Semoga Allah membantuku meraih impianku dari sini. Amiin.

Okke, Munjii. Cukup sampai disini dulu. Maaf tulisannya gaje dan terkesan terburu-buru (mau ngejar shalat Shubuh soalnya hehe). Sampai ketemu lagi kawaan ..

Kamis, 25 Juni 2015

Hijabku, karena Allah

Hijab bukan budaya. Dan hijab bukan untuk gaya. Hijab adalah perintah langsung dari Allah sebagai bukti cintanya pada seorang perempuan.

Teringat kisah kecilku. Gadis yang baru duduk di bangku kelas dua SMP. Saat pertama kalinya aku dikatakan sudah dewasa. Rambut hitam panjang yang selalu ku banggakan diperintahkan untuk menyembunyikannya. Tutur kata dan kelakuan yang bebas kemudian diperintahkan untuk menahannya. Jelas saat itu aku sudah tahu tentang baik buruk sesuatu. Namun, aku tidak pernah tahu tentang semua perintah itu.

Pertamanya aku masih saja membantah. Aku hanya anak gadis yang masih labil.
Kali kedua, aku membantahnya lagi. Aku adalah gadis remaja yang harus bisa ikut tren saat itu.
Kali ketiga, aku memikirkannya. Sikap para remaja kini berbeda. Mereka bukan teman seperti dulu.
Kali keempatnya, aku mengikuti perintah itu. Kadang hati terasa berat saat semua teman-teman menertawaiku. Kita masih muda, tak perlulah terlalu membatasi kesenangan saat ini.

Tapi aku berusaha cuek. Aku terus saja berpikir dan berpikir. Kesenangan itu, bukankah kesenangan yang nyata hanya ada setelah kita mati?

Kawan-kawanku semakin tak karuan. Bebas sebebas-bebasnya. Bergaul dengan siapa saja orang disekitarnya. Aku malu. Dan aku pergi berlari dari sana.

Dan suatu kabar pun kemudian tersampaikan. Kawanku harus berhenti sekolah dan mengurus seseorang yang lain. Ia telah berkeluarga.

Ya Rabb. Begitu sayangkah Engkau pada setiap perempuan? Hingga gadis dengan pikiran yang masih kekanak-kanakan saja Engkau beri hidayah. Gadis yang baru menginjak usia baligh, bagitu pedulinya Engkau padanya? Bahkan sempat berulang kali gadis itu membangkang, masih ada saja rasa sayang-Mu padanya.

Aku malu.
Hijab untuk menjagaku dari luar. Sedang perilakuku menjagaku dari dalam. Dan Allah telah tunjukan padaku, bahwa perintahnya tidak pernah salah.
Ukhti,
Selalu aku yakin. Allah menjagaku. Allah menyayangiku.
Tidak, Allah menjaga kita. Allah menyayangi kita. Dan sampai kapan cinta Allah itu kamu abaikan, sedang kita sendirilah yang mendapat berkah dari padanya?